Skip to content

Millennium Re Run

November 26, 2009

Isu 2012 mengingatkan saya akan beberapa tahun yang lalu, isu tahun 2000. So, di tengah ribut-ributnya kiamat tahun 2012, saya mensurutkan diri ke 13 tahun yang lalu. Mulai pertengahan dasawarsa 90an, kedatangan tahun 2000 begitu hangat menjadi topic. Sebagaimana isu 2012 yang dimanfaatkan beberapa orang menjadi buku, komik, pemancing hit blog, pengundang teman di situs jejaring social, begitu juga nasib kedatangan tahun 2000 CE ini.

Salah satu yang memanfaatkannya dengan baik adalah Chris Carter. Setelah sukses dengan The X-Filesnya, Fox menawari Carter untuk mengkreasi satu miniseri TV lagi. Dan Fox memberi kebebasan bagi Carter untuk membuat serial baru ini. Dan lahirlah Millennium.

Millennium - Frank Black

Millennium - Frank Black

Mengambil nama dari mitos event yang sedang hangat-hangatnya waktu itu, Millennium merupakan serial drama thriller berbau horror. Menu utamanya adalah serial killer. Bumbunya adalah pergantian 1000 tahun masehi, kiamat, dan kedatangan Yesus kedua.

Pilot episode Millennium mencekat saya waktu itu. Pilot yang diproduksi 1996 ini ditayangkan di Indo sekitar awal 1998 di salah satu teve swasta. Jadilah Millennium menjadi serial yang saya tunggu-tunggu selain besutan Carter sebelumnya, The X-Files.

Yang menarik saya dari Millennium adalah serial ini begitu gelap dan suram. Tidak ada humor sama sekali. Millennium memberi saya pemahaman bahwa manusia punya sisi yang sama sekali gelap dan mengerikan –sesuatu yang bisa terjadi pada masyarakat di sekitar rumah kita.

Hal lain lagi yang menarik adalah tokoh utamanya, Frank Black –diperankan oleh Lance Henrikssen- adalah pensiunan agen special FBI yang menjadi konsultan/profiler pembunuh berantai. So, selain nggak tampan dan sudah lumayan berumur –di serial ini Frank Black berumur 49 tahun, ia punya keluarga dengan anak yang masih kecil –karena konon si Frank Black ini telat menikah. Jadilah, tokoh utamanya bukanlah seorang detektif tampan berjas, berbau wangi, dan suka menggoda cewek plus bersih-bersih jasnya kalo habis berantem. Frank Black layaknya orang biasa. Bahkan seperti tetangga saya yang sering minum wedang teh jahe di angkringan: pakaian biasa dan kadang berjaket.

Selain itu yang menarik dari tokoh utama ini adalah ia sudah berkeluarga. Berbeda dengan beberapa serial detektif dengan tokoh utama yang notabene masih lajang. Frank Black harus berusaha keras seimbang antara profesinya dan profesi sebenarnya sebagai kepala keluarga. Ia harus membagi perhatian antara Millennium Group tempat ia bekerja dengan Catherine dan Jordan –istri dan anaknya. Apalagi ada ancaman si Polaroid killer terhadap keluarganya yang clue-nya ditampilkan di episode 1 dan 2 season 1.

Season 1 yang penuh kegelapan mulai berubah pada season 2. Ini karena Chris Carter mau konsentrasi di The X Files Season 5 serta The X Files The Movie. Produser eksekutif diserahkan ke James Wong dan Glen Morgan yang pada season 1 hanya sebagai konsultan. Wong dan Morgan memberi humor pada season kedua ini. Lihatlah pada episode ‘Beware of The Dog’ di mana penduduk kota kecil yang didatangi Frank Black bersikeras bahwa Frank adalah sherrif baru mereka. Atau si Joe Yellow di ‘Sense and Antisense’. Atau ketika ramalan sebuah suku Indian ‘terpenuhi’ karena beberapa bison lepas dari kandang di ‘A Single Blade of Grass’. Atau sindiran terhadap salah satu aliran self-help di ‘Jose Chung Doomsday Defense’. Suasana yang di season 1 begitu gelap dan suram serta kaku dan kejam menjadi cair.

Perubahan yang memuaskan rasa penasaran saya adalah Wong dan Morgan sedikit demi sedikit mengungkap siapa sebenarnya Millennium Group ini –sesuatu yang benar-benar saya ingin tahu pada season 1.

Hix, sayang season 2 yang menarik ini benar-benar saya lewatkan. Mulai episode Monster saya kehilangan season 2. Mengapa? Karena saya waktu itu –akhir 1998- baru saja buka warung Pempek dan otomatis harus berkonsentrasi terhadap usaha baru saya ini. Dus, saya tidak tahu ada Lara Means –rekan kerja Frank- yang sempat dicemburui Catherine. Juga tidak tahu pada episode berapa –dan mengapa- rambut Catherine menjadi lurus.

Tiba-tiba setelah saya bisa duduk manis di depan teve, Millennium sudah menginjak di Season 3. Catherine Black sudah tidak kelihatan. Lalu siapa si Emma Hollis ini?

Alhamdulillah, di akhir 2009 ini saya bisa mendapatkan 3 season Millennium komplit-plit. Eh, cuma kurang episode ‘penutup’ serial ini yang malah merupakan episode keempat di The X Files season 7. Mulailah setiap malam saya nyicil 2 episode. Lumayan, rasa penasaran saya yang 11 tahun lalu hinggap bisa sedikit demi sedikit terobati.

Walaupun tidak sesukses The X Files, Millennium sempat menggondol beberapa award dan masuk beberapa nominasi penghargaan. Sayang, serial teve yang sempat menggaet fans fanatik ini ‘terpaksa’ dihentikan setelah season 3 karena menurunnya jumlah pemirsanya. Ajaibnya, beberapa fans fanatik merasa season 3 belumlah akhir dari petulangan Frank Black. Rame-rame, beberapa fans fanatik bikin script sendiri meneruskan serial ini, membuat Virtual Fourth Season –dan disebarkan di Internet.

Pada saat ini ditulis, saya baru selesai melihat episode 7 season 2. Millennium masih sangat menarik bagi saya. Selain sebagai seorang yang melewati pergantian 1000 tahun masehi tanpa terjadi apa-apa, eksplorasi kegelapan pikiran manusia serta mitos kuno adalah hal yang menarik bagi saya.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: