Skip to content

Bertengkar yang Sehat

November 28, 2006

Punya teman tentu menyenangkan, apalagi yang sudah setia hingga sebutannya sudah tak teman lagi, tapi sahabat. Mau curhat tinggal cerita, terlebih lagi jika sang sahabat adalah orang yang kerap kali menunjukkan jalan keluar bagi masalah kita. Sebaliknya, kita yang jadi sahabat dia juga harus siap untuk menjadi wadah curhat, trus beri pula jalan keluar yang baik baginya. Persahabatan yang saling mengisi seperti ini tentu membuat dunia kita jadi tenteram, hidup pun enjoy saja.
Teman setia kita tentu menginginkan agar kita menjadi baik. Kadang kala sesuatu yang baik itu berarti ‘memaksa’ kita untuk membuang sesuatu yang buruk, padahal kita senang terhadap yang buruk itu –tentu saja senang yang seperti ini nggak boleh. Berpedoman kepada ‘katakan kebenaran walaupun pahit’, sahabat kita pun kadang harus mengatakan yang benar tapi menyakitkan itu. Di sinilah sering timbul picuan perselisihan dan konflik. Ujung-ujungnya kita bisa bertengkar dengan sahabat kita. Karena kritik ataupun bukan karena kritik, yang namanya bertengkar tentu tidak enak rasanya. Lalu harus gimana?
Memang sudah sebaiknya bertengkar itu harus dihindari. Jika nasihat penyebabnya, kita harus introspeksi serta belajar menerima nasihat dan kritik dengan baik. Setelah bertengkar, memaafkan merupakan tindakan yang kudu Anda lakukan. Tapi ada kalanya kita terjebak pada pertengkaran. Sudah terlanjur ramai dan agak naik darah sedikit, dan masing-masing merasa perlu menuntaskan masalah ini.
Inilah yang akan dibahas: bagaimana bertengkar dengan baik dan sehat. Memang sih, pada dasarnya pertengkaran itu tak akan membawa hasil, kecuali rasa sakit dan kebencian. Dengan memaknai pertengkaran sebagai ajang menumpahkan unek-unek dan mencari penyelesaian bersama, maka pertengkaran akan membawa sesuatu yang positif bagi kedua belah pihak. Bertengkar sehat yang seperti ini akan membuka celah untuk introspeksi diri dan menjadi ajang berbagi pendapat. Bisa pula mencegah salah satu pihak memendam masalah yang akhirnya suatu hari nanti bisa menjadi gunung api yang siap meletus sewaktu-waktu. Pengin tahu, gimana bertengkar yang sehat, simak saja resepnya di bawah ini:

Hindari Langsung Menuduh dan Menghakimi
Tuduh-tuduhan merupakan aktivitas nggak enak yang rentan membuat salah satu pihak tersinggung. Orang yang sudah tersinggung sulit untuk cooling down –kecuali yang dirahmati oleh Allah. Karena itu hindari menuduh dan menghakimi ini.
Kalimat tuduhan dan penghakiman biasanya berbentuk langsung menunjuk kepada sifat yang buruk atau aktivitas yang dipandang si pembicara sebagai sesuatu yang keliru. “Anda orang yang egois!” Ini adalah salah satu contoh menunjuk sifat buruk. “Anda senangnya cuma duduk-duduk saja, tahunya kerjaan beres!” Ini contoh yang menunjuk kepada aktivitas yang dinilai buruk oleh si pembicara.
Daripada mengeluarkan kalimat-kalimat yang memojokkan seperti di atas, mending gunakan kalimat yang bisa ‘menyelamatkan’ pertengkaran lebih lanjut. Cobalah katakan, “Aku tahu Anda mengharapkan yang begini…begini, tapi kenyataannya kan masalahnya jadi begitu…begitu… sehingga jadilah beginu…begiti,”
Atau gunakan rumus XYZ, saran dari ahli psikologi Haim Ginnot yang terkenal dalam program komunikasi efektifnya. Rumusnya begini, nih: “Kalau Anda melakukan X, hal itu membuatku merasa Y, dan aku sebenarnya lebih suka kalau Anda melakukan Z,” Contohnya katakan saja, “Kalau Anda cuma duduk-duduk saja, aku agak merasa berat nih, aku lebih suka jika ini kita kerjakan bersama,”
Hindari pula kata ‘selalu’ dan ‘tidak pernah’, karena kalimat dengan kedua kata ini benar-benar mematikan salah satu pihak. Coba saja jika Anda dikata-katai, “Anda selalu malas-malasan saja,” atau “Anda tidak pernah jadi anak yang rajin,” Dengan kalimat yang beratribut ‘selalu’ dan ‘tidak pernah’ seakan-akan karakter malas dan tidak rajin itu sudah jadi kepribadian yang tak pernah bisa diubah dan diperbaiki. Padahal sebenarnya kan nggak seperti itu.

Hindari Intonasi Tinggi dan Suara Keras
Seni bertengkar lainnya yang penting adalah menghindari intonasi tinggi dan suara keras. Tentu tak ada yang memungkiri bahwa kelemahlembutan dan keramahan sikap itu menarik hati semua orang. Karena itu pula Rasulullah r pun pernah berkata tentang lemah lembut ini, yang artinya, “Tidaklah ada kelemahlembutan dalam sesuatu kecuali memperindahnya, dan tidaklah ada kekerasan dalam sesuatu kecuali menodainya.” (Hadits riwayat Muslim).
Terhadap Fir’aun yang kafirnya amat sangat, Allah tetap saja memerintahkan Nabi Musa untuk berkata dengan lemah lembut kepada Fir’aun. Maka, ingatlah, siapa sahabat Anda dan siapa Fir’aun. Sahabat Anda tentu saja tak sehebat Fir’aun pembangkangannya terhadap Allah. Dan perlu diingat pula siapa kita dan siapa Nabi Musa. Kita tentu saja juga tak ada apa-apanya dibandingkan kesalehan Nabi Musa.
So, jaga agar kepala kita tetap dingin, hati tetap tenang. Bertengkar bukanlah ajang adu kekuatan dan tarik ulur pita suara. Sayang dong kalo energi yang telah diberikan oleh Allah kepada kita hanya kita habiskan untuk adu pendapat dan argumentasi. Lebih baik energi itu kita simpan untuk berbuat taat kepada Allah atau untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Dalam masalah bertengkar ini, hemat energi sama dengan hemat masalah.

Stop Ungkit-ungkit Kesalahan Masa Lalu
“Anda kan dulu juga salah, aku juga, sama-sama manusia, to,” Ups, hati-hati jika sudah mulai ada kalimat seperti ini. Kalimat bertipe seperti di atas adalah munculnya persiapan untuk saling mengungkit kesalahan yang lalu.
Menjelaskan keadaan diri untuk mengemukakan sebab atau udzur sampai melakukan sesuatu yang dipandang salah bisa jadi perlu. Jika udzurnya syar’i kemungkinan perbaikan adalah lebih mudah. Hanya saja kadang ada bias juga dalam hal bayan ini. Tampak lahirnya sih mengemukakan udzur, tapi bisa jadi membela diri….atau mengelak. Jika kita sudah terbawa ke membela diri dan mengelak maka hati-hati. Kalo sudah ruwet kadang membela diri malah bisa membawa kepada menyalahkan orang lain. Contohnya seperti di atas.
Menyalahkan orang lain akan cenderung kepada mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu seorang teman. Dengan menyalahkan sahabat Anda, maka Anda akan menghadapi dua hal yang tak menyenangkan sekaligus; persoalan lama muncul lagi, sementara persoalan baru belum juga selesai. Repot, kan?
Langkah untuk menghindari ini adalah waspada terhadap diri sendiri ketika menjelaskan kesalahan kita. Kalo kita memang salah, ya akui saja. Tak perlu membela diri atau mengelak. Nanti malah bisa ganti menyalahkan dan jadi saling menyalahkan.
Manusia itu memang tempat salah. Mana ada anak keturunan Nabi Adam yang nggak pernah salah? Ustadz saja bisa salah apalagi kita. Tapi ingat, ganti mengemukakan kesalahan masa lalu sahabat Anda pada saat bertengkar seperti ini bikin bertengkar nggak sehat lagi.

Stop Merasa Paling Benar
Merasa paling benar masih merupakan saudara dari ganti menyalahkan di atas. Dengan bersikap seolah yang paling benar dalam pertengkaran akan membuat pihak yang merasa bersalah terpojok banget. Orang yang terpojok biasanya akan menggunakan strategi serang balik sehingga muncullah pembelaan diri. Kalo membela diri bisa terbawa kepada mengelak, kalo mengelak bisa terbawa kepada menyalahkan pihak lain, jika menyalahkan maka cenderung mengungkit kesalahan masa lalu. Nah, akhirnya benar juga merasa paling benar dan ganti menyalahkan memang masih saudara kandung yang punya hubungan timbal balik. Yang satu menyebabkan yang lain. Jika ini yang terjadi, maka pertengkaran akan berlarut-larut dan masalah tak terpecahkan.
Tapi stop juga merasa salah semua atau salah terus atau paling salah. Sikap merasa salah yang seperti ini bukan pengejawantahan sikap introspeksi, tapi lebih kepada kekecewaan dan keputusasaan terhadap diri sendiri serta ingin lari dari masalah. Sikap merasa salah semua contohnya tercermin dalam kalimat, “Sudah, sudahlah, saya memang selalu salah, kok,” atau “Baiklah, saya yang salah terus, saya kan yang paling keliru dalam hal ini,” Perhatikan intonasi yang tepat untuk kalimat seperti ini.
Sikap merasa salah yang seperti ini cenderung bermakna melarikan diri dari masalah. Akibatnya kita tidak mau lagi untuk berusaha mencari akar permasalahan. Jika masalah hanya selesai pada tingkat permukaan, nggak tuntas sampai ke akar-akarnya, pertengkaran punya potensi untuk timbul lagi. Lagi. Dan lagi.

Harus Selesai?
Yang perlu dihindari lagi adalah memaksakan bahwa sebuah masalah harus segera selesai dengan perdebatan saat itu juga. Keinginan yang seperti ini malah menambah beban pikiran kita. Masalah tak selalu harus selesai saat itu juga karena pemecahan masalah lebih bisa kita pikir dalam suasana yang lebih dingin.
Jadi, anggap saja pertengkaran sebagai jalan untuk menumpahkan unek-unek. Setidaknya kita akan saling tahu dengan sahabat kita, apa yang kita inginkan dan apa yang tidak, apa yang dia suka dan apa yang dia keberatan. Anggapan seperti ini insya Allah malah lebih menambah pengetahuan kita terhadap keadaan sahabat kita, so, kita malah jadi lebih dekat dan lebih saling memahami. Akhirnya, jalan keluar masalah yang ada bisa dipikir bersama.

Jangan Ragu Minta Ma’af
Salah? Jangan ragu untuk minta maaf jika memang kita berada di pihak yang bersalah. Kehilangan sahabat tentu lebih sakit daripada sekedar minta maaf. Meski menyimpan kesal, santai saja, bertengkar bukanlah perlombaan untuk mencari salah dan benar.
Ingat juga, siapa yang memulai pertengkaran perlu juga minta maaf walaupun ia bukanlah yang akhirnya salah dalam pertengkaran tersebut. Pertengkaran bukanlah hal yang mengenakkan dan pasti menyakitkan. Artinya, memulai pertengkaran sama saja dengan menyakiti yang ‘diajak’ bertengkar. Karena itu perlu dong minta maaf. Walaupun di pihak yang benar, kan, tetap saja menyakiti.

Modal Masa Depan
Siap bertengkar? Eh, janganlah! Siap menyehatkan pertengkaran?
Jadi kesimpulannya, bertengkar itu harus dihindari, kalaupun terpaksa terjebak pada pertengkaran, ingat resep-resep di atas dan praktekkan. Nikmati pertengkaran sehat Anda sebagai ajang saling curhat sehingga malah bisa tambah saling memahami dan lebih erat persahabatan Anda.
Ngomong-ngomong, resep di atas kudu selalu diingat jika Anda sudah punya pasangan hidup. Namanya suami-istri tentu akan pernah bertengkar. Salah satu jalan mempertahankan nikmatnya pernikahan adalah dengan menyehatkan pertengkaran. Tak usah malu jika mau menikah atau sudah menikah, Anda buka-buka kembali blog saya ini. Seharusnya lebih malu jika Anda nggak bisa menyehatkan pertengkaran. Setuju?

3 Komentar leave one →
  1. Viant permalink
    Juli 20, 2007 2:18 pm

    Trims..very usefull…i’ll keep it..

  2. Phientz permalink
    Juli 10, 2009 8:39 am

    Thax 4 saran’a…..aqu jdii bsa ngrti ttg pertengkaran antar sahabat&gmn cra solusi’a…

  3. Juli 11, 2009 5:45 pm

    thx kembali semuanya… senang bisa membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: