Lukisan Anakku Dicetak Secara Nasional
Setelah rumah tempat saya dibesarkan disiarkan secara nasional dan ide saya dicetak secara nasional -konon juga best seller, kini giliran anak saya memulai kiprahnya secara nasional. Lukisan karyanya dimuat di sebuah koran nasional, Kompas, hari Ahad, 9 Oktober 2011, dan tentu saja dicetak dan didistribusikan secara nasional.
Anak saya yang pertama, Ukasyah, memang hobi banget menggambar. Kemampuan menggambarnya diwarisi dari garis ayahnya, sedangkan masalah warna diwarisi dari ibunya. Mbah dhe-nya adalah seorang perupa, guru seni rupa, juga guru arsitektur. Mbahnya yang tentara dan dosen juga lihai menggambar walaupun tidak menekuni keterampilannya sebagaimana kakaknya. Ayahnya sendiri, saya, sejak kelas 2 SD sudah bikin komik sendiri dari potongan buku tulis dan mendistribusikannya ke teman-teman satu SD. Konon, inilah salah satu peletak sejarah konsep komik indie.
.
Tapi yang lebih berperan di sini adalah ibunya. Jika bisa menggambar saja namun tidak bisa mewarnai tentu tidak menarik. Nah, urusan warna mewarnai, istri saya lebih lihai daripada saya. Konsep kekontrasan warna, kedalaman warna, kekayaan warna adalah salah satu bakat alami istri saya tercinta. Secara khusus, istri saya membimbing Ukasyah dalam masalah pewarnaan. Mulai dari pemilihan warna, cara menggoreskan pastel, kombinasi, pencampuran warna, dan sebagainya. Istri saya memang hebat di sini.
Usaha dan bimbingan istri saya tidak sia-sia. Sebelum karya Ukasyah dimuat di Kompas, anak pertama saya ini mendapatkan juara II lomba lukis tingkat TK se-Kabupaten Sleman. Wah, seneng banget rasanya.
Kini tambah seneng lagi karena karyanya nongol di koran nasional. Alhamdulillah.



